Malam ini sungguh dingin, angin terasa
menusuk hingga sumsum tulangku. Sebelum sampai ke sumsum tulangkau, angin
terlebih dahulu mencari celah untuk masuk ke dalam kamar melalui pori-pori
dinding ataupun sela-sela jendela. Meskipun suasana sangatlah mendukung untuk
segera memejamkan mata menembus alam dunia menuju alam mimpi, tapi aku berusaha
untuk terus terjaga. Mata ini tak boleh terpejam dahulu, mata ini harus dipaksa
untuk terus terbuka paling tidak hingga pukul 12 malam. Iya, ini hanyalah
bagian dari ritual bodohku. Ritual yang hampir selalu aku lakukan setiap
tahunnya. Aku tak tau mengapa harus melakukan ritual seperti ini di setiap aku
mengalami pergantian usia. Ya, hari ini adalah hari terakhirku di usia yang ke
20. Sebentar lagi angka itu akan berubah menjadi 21. Ah, sebenarnya aku tak
terlalu suka mengingat-ingat usia. Usia merupakan beban, di dalam usia selalu
tersimpan target. Dari sekian banyak target, pasti tak semuanya akan tercapai,
dan pada akhirnya usia hanya akan menjadi hantu dalam setiap ronde kehidupan.
Aku melirik bulan, bulanpun balik melirikku. Andai ia bisa bicara, aku yakin ia
akan bilang padaku bahwa kamu tidak sendiri, aku menemanimu disini.
Tapi aku sadar, bulan tak mampu bicara, ia hanya bisa bicara lewat pancaran cahaya terangnya yang menembus jendela kamarku. Aku melirik bintang, ia berkedip. Aku tau, itu adalah tanda perhatiannya untukku. Pasti ia bermaksud ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku, namun ia tak punya mulut untuk mengungkapkannya. Udara semakin dingin, bahkan sekarang dinginnya terasa hingga darah, ikut mengalir ke seluruh tubuh. Terkadang di malam pergantian usia seperti ini, aku juga berharap ada bidadari yang datang untuk sekadar memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. Impian seperti itu, sudah aku impi-impikan sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, impian itu memang hanya mimpi. Tak pernah ada bidadari yang datang. Mungkin ia sudah tidur, atau mungkin peraturan jam malam membuat ia tak bisa turun dari kayangan. Suara tokek tiba-tiba terdengar. Meskipun suaranya hanya tekek tekek tekek, namun aku selalu percaya bahwa sebenarnya ia berniat mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Keterbatasan pita suara lah yang membuat nada yang keluar dari mulutnya hanyalah tekek tekek tekek. Aku lihat jam di hp jadulku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Berarti aku sudah resmi bertambah tua setahun. Aku cek hp-ku, tak ada pesan ataupun telefon dari bidadari. Aku buka pintu, tak ada bidadari disitu. Ternyata sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bidadari tak datang, bidadari tak memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. Padahal aku sudah setia menunggunya, menunggu dengan penuh harapan di tengah ketidakpastian. Hp-ku tiba-tiba berdering, ada beberapa pesan masuk di dalam inbox-ku. Merekalah orang-orang terdekatku. Senyum kecil langsung terbit dari wajahku, ternyata masih ada orang yang peduli padaku. Aku mulai berpikir, jangan-jangan salah satu dari mereka adalah bidadariku yang sesungguhnya. Bidadari yang aku nanti-nantikan sejak dulu namun tak pernah aku sadari keberadaannya. Aku mulai mengantuk, bantal empuk di sampingku tak henti-hentinya menggodaku untuk segera menyandarkan kepala. Aku akhirnya tertidur, melebur, dan melenyap bersama bayangan bidadariku.
Tapi aku sadar, bulan tak mampu bicara, ia hanya bisa bicara lewat pancaran cahaya terangnya yang menembus jendela kamarku. Aku melirik bintang, ia berkedip. Aku tau, itu adalah tanda perhatiannya untukku. Pasti ia bermaksud ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku, namun ia tak punya mulut untuk mengungkapkannya. Udara semakin dingin, bahkan sekarang dinginnya terasa hingga darah, ikut mengalir ke seluruh tubuh. Terkadang di malam pergantian usia seperti ini, aku juga berharap ada bidadari yang datang untuk sekadar memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. Impian seperti itu, sudah aku impi-impikan sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, impian itu memang hanya mimpi. Tak pernah ada bidadari yang datang. Mungkin ia sudah tidur, atau mungkin peraturan jam malam membuat ia tak bisa turun dari kayangan. Suara tokek tiba-tiba terdengar. Meskipun suaranya hanya tekek tekek tekek, namun aku selalu percaya bahwa sebenarnya ia berniat mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Keterbatasan pita suara lah yang membuat nada yang keluar dari mulutnya hanyalah tekek tekek tekek. Aku lihat jam di hp jadulku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Berarti aku sudah resmi bertambah tua setahun. Aku cek hp-ku, tak ada pesan ataupun telefon dari bidadari. Aku buka pintu, tak ada bidadari disitu. Ternyata sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bidadari tak datang, bidadari tak memberi ucapan selamat ulang tahun untukku. Padahal aku sudah setia menunggunya, menunggu dengan penuh harapan di tengah ketidakpastian. Hp-ku tiba-tiba berdering, ada beberapa pesan masuk di dalam inbox-ku. Merekalah orang-orang terdekatku. Senyum kecil langsung terbit dari wajahku, ternyata masih ada orang yang peduli padaku. Aku mulai berpikir, jangan-jangan salah satu dari mereka adalah bidadariku yang sesungguhnya. Bidadari yang aku nanti-nantikan sejak dulu namun tak pernah aku sadari keberadaannya. Aku mulai mengantuk, bantal empuk di sampingku tak henti-hentinya menggodaku untuk segera menyandarkan kepala. Aku akhirnya tertidur, melebur, dan melenyap bersama bayangan bidadariku.
Surabaya, 15 Mei 2013 (Pukul 23.45)
RSS Feed
Twitter
22.54
Alvin Mujahid
0 komentar:
Posting Komentar