Sore itu, aku melihat dia, gadis dengan raut wajah
yang menentramkan. Seperti kebiasanya, dia datang dengan membawa senyum. Dan
aku, akupun langsung ikut tersenyum. Hatiku berkata, ini akan menjadi senja
yang indah. Senja yang romantis bagi imajinasiku. Dia kemudian duduk manis
bersama teman-temannya. Tak hanya duduknya yang manis, tapi senyumannya juga
manis. Jangan heran jika aku sering menyebut kata “senyum”. Karena disini aku
memang berperan sebagai tokoh pengagum senyumannya. Sebetulnya, kehadirannya
adalah sebuah petaka. Karena itu hanya akan membuatku tak fokus pada tugasku di
sore itu, hanya akan membuat dua pertiga perhatianku tersedot kepadanya. Tapi
aku tak peduli, kehadirannya yang begitu jarang membuat moment itu menjadi
sangat spesial dan tak boleh terlewatkan sia-sia begitu saja. Sesekali, aku
ingin mencuri sedikit perhatiannya. Tapi dia sekalipun tak melihatku. Mungkin betul,
baginya aku hanyalah satu dari seribu. Padahal bagiku, dia adalah seribu satu. Jika
salto bisa membuatnya mengalihkan pandangan padaku, tentunya aku akan salto.
Tapi nyatanya aku tak pernah bisa salto. Jangankan salto, menyapanya saja aku
tak bisa. Bukan karena aku bisu, aku bahkan sangat cerewet di depan orang lain.
Tapi di depannya, semua tak pernah sama. Aku tiba-tiba menjadi seperti anak
kecil yang baru mau belajar bicara.Bahkan ada hal yang lebih sepele lagi yang
tak mampu aku lakukan, aku tak mampu menatap wajahnya dari dekat. Ketika ada di
radius lima meter darinya, jantungku pasti berdebar-debar kencang. Aku tak tau,
efek magis apa yang dia miliki sehingga membuatku seakan-akan menjadi menusia
paling pengecut di dunia ini.Sehingga yang bisa aku lakukan hanyalah menatap
wajahnya dari kejauhan. Oh iya, aku punya kamera. Maka aku curi-curi mengambil
fotonya. Tapi begitu aku Zoom, hal yang sama terjadi, jantungku berdebar
kencang. Akhirnya aku hanya bisa mengambil gambarnya dalam ukuran yang amat
kecil. Namun begitu, pancaran senyumnya masih terlihat jelas. Lumayan, fotonya
bisa aku jadikan dongeng sebelum tidur, sambil berharap wajahnya ikut terbawa
ke dalam mimpi. Tak terasa, acara sore itu telah usai. Dan dia telah pergi
entah kemana. Mentari pun telah tenggelam di telan bumi. Namun harapanku tak
pernah tenggelam. Seperti mentari yang masih akan datang lagi esok pagi, maka
aku juga berharap kesempatanku akan datang lagi suatu saat nanti. Aku, pengagum
senyumanmu.
Bojonegoro,
1 September 2014
RSS Feed
Twitter
04.50
Alvin Mujahid
0 komentar:
Posting Komentar