Senin, 15 Juni 2015

Sore itu, aku melihat dia, gadis dengan raut wajah yang menentramkan. Seperti kebiasanya, dia datang dengan membawa senyum. Dan aku, akupun langsung ikut tersenyum. Hatiku berkata, ini akan menjadi senja yang indah. Senja yang romantis bagi imajinasiku. Dia kemudian duduk manis bersama teman-temannya. Tak hanya duduknya yang manis, tapi senyumannya juga manis. Jangan heran jika aku sering menyebut kata “senyum”. Karena disini aku memang berperan sebagai tokoh pengagum senyumannya. Sebetulnya, kehadirannya adalah sebuah petaka. Karena itu hanya akan membuatku tak fokus pada tugasku di sore itu, hanya akan membuat dua pertiga perhatianku tersedot kepadanya. Tapi aku tak peduli, kehadirannya yang begitu jarang membuat moment itu menjadi sangat spesial dan tak boleh terlewatkan sia-sia begitu saja. Sesekali, aku ingin mencuri sedikit perhatiannya. Tapi dia sekalipun tak melihatku. Mungkin betul, baginya aku hanyalah satu dari seribu. Padahal bagiku, dia adalah seribu satu. Jika salto bisa membuatnya mengalihkan pandangan padaku, tentunya aku akan salto.
Tapi nyatanya aku tak pernah bisa salto. Jangankan salto, menyapanya saja aku tak bisa. Bukan karena aku bisu, aku bahkan sangat cerewet di depan orang lain. Tapi di depannya, semua tak pernah sama. Aku tiba-tiba menjadi seperti anak kecil yang baru mau belajar bicara.Bahkan ada hal yang lebih sepele lagi yang tak mampu aku lakukan, aku tak mampu menatap wajahnya dari dekat. Ketika ada di radius lima meter darinya, jantungku pasti berdebar-debar kencang. Aku tak tau, efek magis apa yang dia miliki sehingga membuatku seakan-akan menjadi menusia paling pengecut di dunia ini.Sehingga yang bisa aku lakukan hanyalah menatap wajahnya dari kejauhan. Oh iya, aku punya kamera. Maka aku curi-curi mengambil fotonya. Tapi begitu aku Zoom, hal yang sama terjadi, jantungku berdebar kencang. Akhirnya aku hanya bisa mengambil gambarnya dalam ukuran yang amat kecil. Namun begitu, pancaran senyumnya masih terlihat jelas. Lumayan, fotonya bisa aku jadikan dongeng sebelum tidur, sambil berharap wajahnya ikut terbawa ke dalam mimpi. Tak terasa, acara sore itu telah usai. Dan dia telah pergi entah kemana. Mentari pun telah tenggelam di telan bumi. Namun harapanku tak pernah tenggelam. Seperti mentari yang masih akan datang lagi esok pagi, maka aku juga berharap kesempatanku akan datang lagi suatu saat nanti. Aku, pengagum senyumanmu.

Bojonegoro, 1 September 2014


(Alvin Mujahid)

0 komentar:

Posting Komentar